
Sekitar tahun 1970-an, sangat langka dan sulit mencari sepatu sepakbola bermerk, seperti Adidas atau Nike. Umumnya para pemain atau penghobi sepakbola waktu itu untuk memperoleh sepatu sepak bola, pasti mereka berkunjung ke Pasar Senen, khususnya toko dan industri sepatu bola. Toko dan industri kecil sepatu bola, tepatnya berlokasi di kawasan yang belakangan dikenal dengan "segitiga senen". Disitulah terdapat dua buah toko, saling bersebelahan - Toko Sam Tay dan Siong Vo. Kedua toko tersebut khusus membuat dan menjual sepatu sepak bola.
Sepatu sepak bola Sam tay dan Siong Vo masa itu terbuat dari kulit dan bagian alas sepatu dan enam buah taji ('pul) juga terbuat dari kulit. Semakin lama sepatu digunakan, maka taji sepatu akan semakin tajam. Karena taji kulit aus dan menjadi pipih, sehingga pangkal paku mencuat keluar. kalau diperhatikan, luka para pemain selepas pertandingan, umumnya terlihat di bagian tulang kering kaki terdapat goresan-goresan luka layaknya goresan akibat dicakar seekor kucing. Akhir tahun 1975, produksi sepatu sepak bola merk Sam tay dan Siong Vo pun berangsur berkembang mengikuti kondisi pasar pada masa itu, dimana sepatu bola produk luar negeri sudah mulai masuk. Sam Tay dan Siong Vo pun mengganti alas dan taji sepatu bola dengan bahan plastik. Layaknya model sepatu import masa itu. Namun, sebelum sepatu digunakan memang sebaiknya dibawa ke tukang sol lebih dahulu untuk dijahit, agar alas plastik sepatu sepak bola tidak mudah terkelupas.
Sepatu sepak bola waktu itu mudah rusak dan aus bukan karena kualitas sepatu itu sendiri, tapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lapangan sepak bola masa itu. lapangan kompetisi waktu itu sulit untuk dikatakan "lapangan hijau", karena memang dari warnanya saja tidak hijau. warna lapangan cenderung coklat, abu-abu dan hitam. Lapangan warna coklat karena hanya hamparan tanah. Lapangan warna abu-abu karena tanah kering berdebu dengan hamparan bebatuan. Sedangkan lapangan warga hitam, karena pada waktu musim hujan air tidak menyerap dan acapkali tergenang, sehingga lapangan terus-menerus basah dan terus menerus digunakan bermain. Akhirnya lapangan pun seolah menjadi lahan sawah siap tanam (ars@2010).
No comments:
Post a Comment